‘Kita Masih Memerlukan Guru’
Mei 15, 2017

Terima Kasih Ibu Een

SUARA Detia mengalun merdu. Penderita tunanetra itu mengiringi pembukaan Een Sukaesih Award 2016 Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat, Senin (9/5).

Di atas panggung, Lilis Widianingsih tersenyum. Mewakili keluarga, dia mengapresiasi Een Sukaesih Award 2016 Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat, yang digagas INILAH KORAN.

“Sungguh berbahagia saya bisa berada di hadapan hadirin. Saya mewakili keluarga Ibu Een mengucapkan terima kasih kepada INILAH KORAN, Pemprov Jabar dan Bank BJB yang telah menggelar kegiatan ini,” katanya memberikan sambutan di Aula Barat Gedung Sate, Senin (9/5).

Lilis datang bersama keluarga besar almarhumah Een Sukaesih. Mereka terdiri atas adik kandung dan para anak didik kesayangan almarhumah. “Trah semangat langsung Bu Een ada pada murid-muridnya. Dari usia SD mereka belajar membaca. Hingga sekarang mengelola rumah Pintar Al Barokah,” katanya.

Menurut Lilis, semangat Bu Een yang menginspirasi ini perlu ditiru oleh generasi sekarang. Guru kalbu yang mengajar dengan kasih sayang dan tanpa mengharapkan dunia.

“Beliau tidak pernah meminta untuk dihargai. Tidak pernah diminta disimbolisasikan. Saat kami menyusun nama yayasan dan lembaga saja tidak mau memakai nama beliau,” jelasnya.

Almarhumah, kata Lilis, adalah guru yang tulus. Guru yang tidak mengakui dirinya. Guru yang bekerja tidak pernah mengenal lelah. “Sampai detik terakhir, beliau masih mengajar. Masih menerima tamu.
Padahal, seminggu sebelum almarhum meninggal, dalam kondisi sangat parah,” ujarnya.

Event Anugerah guru inspiratif ini, kata dia, secara langsung membawa semangat yang telah digariskan Bu Een untuk pendidikan. Perjuangan Bu Een tidak berhenti sampai Bu Een. Para guru inspiratif yang jadi nomine dalam kegiatan ini telah bekerja keras dan tulus.

“Semoga kita menjadikan pendidikan ini punya masa depan. Atas nama keluarga kami mengucapkan apresiasi yang besar atas inisiasi membawa nama besar Bu Een untuk tetap jadi inspirasi pendidikan Indonesia. Bukan sekadar penghargaannya, namun semangatnya yang harus ditularkan,” bebernya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengapresiasi kegiatan Een Sukaesih Award 2016 Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat.

“Acara sederhana namun penuh makna. Boleh jadi tidak banyak yang memperhatikan namun sangat bermakna bagi pendidikan,” kata Heryawan dalam sambutannya.

Gubernur yang akrab disapa Aher itu mengatakan, pemberian anugerah kepada 40 nomine guru inspiratif ini memberikan makna sangat mendalam bagi kiprah guru.

Maka pantas, guru dan kedua orang tua wajib dipuji oleh siapa pun. Di muka bumi ini, kata Aher, semua manusia berutang budi pada orang tua dan guru. “Kedudukan guru dan orang tua sangat tinggi di hadapan Allah Subhanahu wata’ala,” katanya.

Aher menjelaskan, urusan guru bukan masalah kecerdasan semata. Tapi kecerdasan secara utuh. Manusia cerdas yang memahami kehidupan seutuhnya.

Menurut Aher, pendidikan Indonesia masih mengandalkan hard skill. Orang yang dihargai kecerdasannya hanya pikiran. Padahal, kecerdasan pikiran tidak menyeluruh.

“Ada seorang anak tidak suka matematika. Namun disisi yang lain dia cerdas. Memang sistem pengajaran kita masih agak salah,” imbuhnya.

Kecerdasan haruslah berbicara pada pemahaman dalam urusan kehidupan. Merekalah yang seimbang antara soft skill dan hard skill.

Fakta yang ada dari produk pendidikan, seseorang hanya mengandalkan hard skill yang kokoh. Tapi tidak bisa bergaul dengan sesama manusia yang lain. Pada akhirnya, hanya menghasilkan manusia arogan, merasa pintar, dan tidak pernah menghargai manusia lain.

“Hard skilk hebat tapi soft skill tidak. Padahal manusia harus punya kemamuan hidup harmonis dengan manusia lain. Egaliter, tawadhu, empathy, dan kemampuan bahagia saat membahagiakan orang lain,” bebernya.

Sosok Bu Een, kata Aher, telah menghadirkan pentingnya membangun kecerdasan soft skill itu. Menghadirkan secara utuh tentang peranan manusia.

“Jadi, jika ditanya apakah kita masih butuh guru? Saya katakan dengan tegas, guru sampai hari kiamat diperlukan. Teknologi hanya bisa menyelesaikan hard skill,” jelasnya.

Aher mengatakan, membangun makna pendidikan yang diharapkan tidaklah terlambat. Menghadirkan makna pendidikan paling utama.

“Makna paling dalam adalah mengadabkan manusia. Memanusiakan manusia. Menjadikan manusia hakiki dan sesungguhnya,” ujarnya.

Dia mengapresiasi INILAH KORAN yang telah menggelar event ini. Karena anugerah guru inspiratif ini, ikut memberikan makna yang dalam pendidikan. “Sebagai seorang murid, saya menyampaikan kepada para guru. Terima kasih wahai Bapak Ibu guru,” tandasnya.

Direktur INILAH KORAN Gilang Mahesa mengatakan, meski saat ini anak-anak mudah mendapatkan ilmu dari internet, sosok guru sangatlah diperlukan untuk membangun karakter peserta didik.

“Pada momentum Hardiknas ada sebuah tulisan, apakah kita masih memerlukan guru? Ketika anak-anak lebih bertanya pada google. Bahkan di Amerika, orang lebih banyak belajar pada internet,” kata Gilang, saat memberikan sambutan.

Gilang mengatakan, peranan guru tetaplah diperlukan dalam pendidikan. Karena gurulah, yang karakter, budi pekerti dan jiwa bisa tertanam dalam sanubari.

“llmu tanpa budi adalah kekeringan. ilmu tanpa jiwa hanya melahirkan kekeringan. Jiwa didapat mana kala berinteraksi dengan guru atau pendidik,” tegasnya.

Untuk itulah, pihaknya sengaja menggagas sebuah event bersama Pemprov Jabar dan Bank BJB. Harapannya, event seperti ini bisa kembali memunculkan ruh pendidikan.

“Pendidikan bukan hanya berbicara angka-angka 1-10. Pendidikan adalah sesuatu hal yang mewarnai jiwa seseorang,” katanya.

Ruh pendidikan itu bisa digenggam dengan peranan guru. Karena guru merupakan riang peradaban.
“Guru yang mengakarkan kebaikan. Dia memberikan seberkas cahaya. Guru pula yang bisa mengantarkan seseorang agar bisa membedakan yang baik dan yang buruk,” ujarnya.

Sebagai upaya ikhtiar membangun pendidikan yang berkarakter itu, panitia mendapatkan 273 orang usulan. Mereka yang diusulkan ada guru-guru inspiratif yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat.

Meski kenyataannya, semangat membangun pendidikan ini bukan hanya diapresiasi oleh warga Jabar saja. Namun masyarakat lainnya di sejumlah penjuru Nusantara ini.

“Untuk mendapatkan penilaian, para guru ini bukan hanya dari Jawa Barat. Ada dari Jakarta, Padang dan Makasar. Namun pada akhirnya, kami masih membatasi sementara di provinsi Jawa Barat,” katanya.

Dari 273 orang guru inspiratif yang di ajukan, pihak dewan juri dan tim adhoc akhirnya berhasil mendapatkan 40 orang yang masuk nomine.

Sebanyak 40 tenaga pendidik yang tidak mengajukan dirinya ini telah melalui penilaian komprehensif. Bahkan, banyak para guru yang tidak tahu dirinya diajukan dalam anugerah ini.

“Kita coba melihat dari 273 ini yang didaftarkan. Mereka adalah orang-orang yang memberikan efek baik di lingkungannya,” ujarnya.

Sejumlah kategori lengkap dirangkul oleh panitia. Mulai dari tenaga pendidik TK dan madrasah, SD, SMA dan nominasi untuk sekolah nonformal.

Dengan tingginya antusiasme peserta dan kerja keras para dewan juri, pihaknya mengucap terima kasih. Karena mereka telah berjuang mencari saripati pendidikan.

“Saya harus mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang hadir, yang sangat berjuang. Menggali banyak informasi dan saripati yang dibawa nomine. Dewan juri telah bertempur dan beradu ide,” tandasnya.

Sedikitnya 40 nominator Een Sukaesih Awards 2015 menghadiri malam penganugerahan guru Inspiratif Jawa Barat Een Sukaesih Award 2016. Seluruh nominator tampak antusias dan menyambut baik acara yang digelar di Aula Barat Gedung Sate Kota Bandung ini.

Sebelum acara berlangsung, tampak calon nominator ini sudah duduk di kursi yang telah disediakan. Satu per satu mereka saling menyapa dengan nominator lainnya yang berbeda sekolah.

Setelah rangkaian acara berlangsung, saatnya waktu yang ditunggu-tunggu yakni pengumuman pemenang nominator Een Sukaesih Awards 2015.

Satu per satu pemenang mulai diumumkan. Kategori TK jatuh pada Titin Sulistiawati yang berasal dari TK SLB Ayah Bunda Parung Kabupaten Bogor. Sementara untuk kategori SD, jatuh pada Lilis Harjati dari SD Negeri 1 Dukuh Kabupaten Cirebon.

Selanjutnya pemenang kategori SMP adalah Hipni Mubarok Abidin dari SLBN Garut. Nominasi kategori SMA Agus Nugroho dari SMK Negeri 1 Cimahi. Juara kategori nonformal serta juara umum Heni Sri Sundani, Penggagas gerakan anak petani cerdas Kabupaten Bogor.

Sementara untuk penghargaan khusus, jatuh kepada Yanti Suryanti, yang berasal dari Diniyah Jamiatul Huda Arjasari, Kabupaten Bandung. Semua pemenang mendapatkan mendali dan sertifikat yang langsung di berikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Suasana penuh keakraban pun sangat terasa betul ketika mereka berpisah. Mereka saling berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang mungkin saja tidak bisa dilupakan oleh mereka. (gin) Fuad H/Daulat/Okky

2 Comments

  1. YULI TRIANA, S.Pd berkata:

    Guru bukan hanya mendidik dan mengajar, namun hendaknya mampu menghadirkan perubahan terhadap lingkungan sekitar. Pada Sekolah Menengah Kejuruan,
    perubahan ekonomi masyarakat sekitar bisa dilakukan melalui optimalisasi peran BURSA KERJA KHUSUS (BKK) terhadap penyaluran kerja alumni maupun mayarakat sekitar. Setelah memperoleh pekerjaan tentu tahap berikutnya bisa menyiapkan diri untuk bisa Kuliah atau Berwirausaha.

  2. Hj.EUIS HASANAH,S.Pd.M>M>Pd. berkata:

    Alhamdulillah. Terima kasih saya ucapkan pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pa Aher, Inilah Koran, Pa Gilang, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, BJB dan semua pihak yang telah mendukung pemilihan Guru Inspiratif Jawa Barat ESA, semoga menjadi kebaikan untuk semuanya dan senantiasa dapat balasan dari Alloh SWT. Semoga di tahun 2017 ini saya diberi kesempatan untuk menjuarai nominasi dan mendapat anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat ESA tahun 2017. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *